Tahap Selanjutnya?

Ternyata tadi pagi dikasih kabar oleh teman (Gw tau anda lagi berkeliaran reblog-ing sana sini! Maaf ya belum dibalas hpnya jauh haha) bahwa wisuda tanggal 1 Desember. Lalu bertambahlah masa-masa idle saya. 

Ga masalah, sama sekali. Di umur 22 tahun ini tampaknya saya masih belum siap untuk terjun. Oh kalau ikut analogi yang sering dipake sih.. belum siap untuk naik ke permukaan (karena selama ini sayanya tidur-tiduran di bawah permukaan tanah semacam tikus). Mungkin sebenarnya siap, dan terpaksa untuk siap kalau ada tangan yang mengangkat gw ke atas. Sayangnya untuk saat ini, belum ada tangan yang menggapai. 

Besar dengan saudara dengan kemampuan otak di atas rata-rata, saya selalu merasa kalau nanti bakal senasib dengan sang kakak. Sifat bawaan seorang adik, kakak adalah panutan nomor satu. Kakak dengan tindakan A, sang adik juga harus A. Ini ngeselin sih tampaknya kalau dari sudut pandang si anak pertama. Hahaha entahlah. 

Dia yang begitu lulus kuliah, langsung masuk ke dunia kerja, dengan mimpi yang selalu ditempel di dinding dan di otak sampai akhirnya si mimpi udah kepegang. Iri. Ah lupakanlah topik iri-irian itu ga akan pernah selesai. Gw yang saat itu masih kagum dengan sang kakak (sekarang juga kok…. masih. mungkin.) berpikiran

Ah cari kerjaan setelah kuliah gampang kok! Pasti dapat.

Ketawa miris dulu. Nasib setiap orang beda-beda, ga terkecuali nasib kakak dan adik. Rasanya seperti ditampar realita ketika sibuk masuk ke jobfair. Kagum, penasaran, excited, cape ngantri, jadi perasaan campur aduk pertama kali. Maklumlah, sang kakak ga pernah ngasih tau gimana sih rasanya masuk jobfair.

Semua ada waktunya. Ya asal sayanya juga harus tau 

Lo maunya apa sih dit?

Kebanyakan mikir. Memang. Saya mau ini itu, tapi selalu kepentok dengan pikiran 

Tapi nanti nyusahin

Tapi saya juga beruntung kok. Lingkungan keluarga bukan tipe yang mewajibkan untuk cepat-cepat memutuskan masa depan. Mungkin mereka khawatir (siapa sih yang ngga), cuman mereka punya keyakinan

Biarinlah, nanti Dita juga bilang mau jadi apa

Saya pengen sekolah lagi. Saya juga pengen merasakan kerja di umur 22 itu seperti apa. Saya ga mau jadi konsultan (frontal). Saya ingin cari sesuatu yang baru dan buat penasaran.  

Kalimat-kalimat itu yang masih tertanam di otak sampai saat ini. 

Beberapa orang pasti merasakan masa-masa “dingin” kaya gini. Nikmatin aja? sebulan, dua bulan, setahun pun, kalau tau goalnya apa hasilnya pasti baik.

Hiinnnggg sayanya ga biasa bikin kalimat-kalimat motivasi. Yah. Ayo berjuang. Semuanya. 

Saya juga harus berjuang.

dah.

"You know? Talking to you on this phone… is such an amazing thing. I thought I would never… ever… hear your voice from this again."

Yellow Moon - Akeboshi

A yellow moon. Keep on counting
To three, and open your eyes 
Shadow moon 
Still dreaming

Look in my eyes, look in my eyes
As we stand with our backs to each other
Look in my eyes, when will I see you again?

Every day every night 
I want to tell you right now, with words of love
About my love for you
Every day every night 
With an ordinary signal
I want to tell you about this feeling that’s out of control

A magic code change
In this sleepless town
A jazz guitar playing a soft minor
That changes every day

aegiyoyoyo:

Kanojo wa Uso wo Aishisugiteru (2013)

re-watch berkali-kali. Di skip berkali-kali. Ikutan nyanyi berkali-kali. Ulang last scene berkali-kali. Squealing berkali-kali. Ulang scene sato takeru berkali-kali. 

Lalu kangen Kenshin.

Ooooh ya ampuuun ini saya baca komiknyaaa. Ternyata yg jadi Aki itu TAKERU??????????

YEASHH. huhahahahahha yailah ga jauh” ya ternyataaa

Kanojo wa Uso wo Aishisugiteru (2013)

re-watch berkali-kali. Di skip berkali-kali. Ikutan nyanyi berkali-kali. Ulang last scene berkali-kali. Squealing berkali-kali. Ulang scene sato takeru berkali-kali. 

Lalu kangen Kenshin.

Hana Yori Dango Final Photo Book

Hana Yori Dango Final Photo Book

<3<3<3<3<3

<3<3<3<3<3

Lalu.. Saya Kembali

Minggu-minggu di mana hormon mulai main-main sama emosi. Dibiarin saja.

Lalu ada trigger, berusaha bicara, tapi penerimaannya tidak menyenangkan. Pecah deh. 

Tipikal Dita. Tipikal.

Not a Review, merely an observation. →

borglone:

Rurouni Kenshin’s live action adaptations, despite its flaws, are probably the greatest manga adaptation series EVER (at least in my opinon). As a movie audience and as a fan of the manga series, i left the theater today (after watching the sequel) feeling greatly satisfied by its adaptation, and…